Manajemen krisis
adalah proses yang membahas organisasi dengan sebuah peristiwa besar yang mengancam merugikan organisasi,
stakeholders,
atau masyarakat umum. Ada tiga elemen yang paling umum untuk
mendefinisi krisis: ancaman bagi organisasi, unsur kejutan, dan
keputusan waktu singkat. Berbeda dengan manajemen risiko, yang
melibatkan menilai potensi ancaman dan menemukan cara terbaik untuk
menghindari ancaman. Sementara manajemen krisis berurusan dengan ancaman
yang telah terjadi. Jadi manajemen krisis dalam pengertian yang lebih
luas merupakan sebuah keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk
mengidentifikasi, menilai, memahami, dan mengatasi situasi yang serius,
terutama dari saat pertama kali terjadi sampai ke titik pemulihan
kembali.
Situasi Krisis
Manajemen krisis membedakan situasi krisis menjadi : pra-krisis dan
krisis. Situasi Pra-krisis adalah situasi masih tenang dan stabil,
bahkan tanpa tanda-tanda akan terjadinya krisis, sedangakan Situasi
Krisis dirinci dalam tahap-tahap
prodomal, akut, kronik, dan pengakhiran (
resolution). Pada tahap
prodomal, hadir tanda-tanda, pada tahap akut, terjadi kerusakan (
damage), pada tahap kronik, krisis akan berlanjut yang lebih parah, dan pada tahap pengakhiran, krisis berakhir/teratasi.
Peran Media di Masa Krisis
Di era informasi seperti sekarang ini semua aspek kehidupan tidak
dapat dilepaskan dari media. Ketergantungan akan media sudah menjadi
bagian dari kebutuhan hidup manusia, karena media merupakan sumber dan
pengolah informasi yang dibutuhkan masyarakat. Bahkan menurut
Dennis McQuill
media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk
memperoleh gambaran dan citra realitas sosial tetapi bagi masyarakat dan
kelompok secara kolektif
[4].
Informasi yang disajikan media telah cukup membantu dalam memenuhi
keingintahuan orang terhadap suatu hal atau kejadian yang sedang
berlangsung sekalipun tidak bisa merasakan atau melihat langsung. Dalam
konteks informasi yang berkaitan dengan krisis, tentu saja intensitas
perhatian orang akan meningkat dan akan selalu mengikuti informasi
perkembangannya. Dalam hal ini, media akan menjadi satu-satunya sumber
informasi untuk mengumpulkan, mengolah dan bahkan menafsirkan informasi.
Karena sebagai satu-satunya sumber, media bebas mengarahkan kemana
informasi ini ingin dibentuk apakah untuk membangun solidaritas,
simpati, membangun kesadaran bersama (
being together), atau mereduksi ketidaktentuan (
uncertainity) dan ketakutan (
fear) masyarakat
[5].
Tentu saja hal itu tergantung pada jenis dan macam krisis yang terjadi.
Namun yang jelas bahwa informasi yang berkaitan dengan krisis media
mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk opini dan simpati
publik.
Penelitian mengenai peran media massa di masa krisis telah banyak
dilakukan oleh banyak ahli terutama ketika krisis sedang berlangsung.
Pemberitaan media mengenai krisis yang tengah berlangsung sangat
dibutuhkan banyak orang karena kemampuannya menyajikan informasi,
interpretasi dan membangun solidaritas. Fungsi solidaritas yang dibangun
oleh media dipandang tidak sekedar memerankan fungsi pengawas (
watchdog) selama krisis berlangsung, namun juga fungsi membangun kesadaran tanggungjawab sosial (
sosial responsibilty) di antara publik.
Perencanaan Manajemen Krisis dalam Pendekatan Manajemen Strategis.
Manajemen strategis berangkat dari suatu pemikiran bahwa perkembangan
dunia telah memasuki era globalisasi dengan ditandai semakin hilangnya
batas negara (
borderless) sebagai akibat dari perkembangan
tehnologi informasi yang kian pesat. Persaingan, perdagangan bebas dan
isu krisis lingkungan hidup akibat eksploitasi lingkungan, pencemaran
dan penurunan kualitas lingkungan telah menjadi isu global yang
mengharuskan para pelaku organisasi mendesain ulang perencanaan
strategis organisasi mereka.
Manajemen strategis yang didefinisikan sebagai seni dan ilmu
untuk memformulasi, mengimplementasi, mengevaluasi keputusan lintas
fungsi yang memungkinkan organisasi mencapai tujuan. Ini artinya
manajemen strategis berupaya mengintegrasikan manjemen (keuangan,
pemasaran, produks, organisasi, SDM dan krisis) dalam satu kesatuan
sistem yang terimplementasi dalam sebuah “perencanaan strategik”.
Secara umum perencanaan strategi terdiri dari tiga tahap proses,
yaitu formulasi strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi.
Pada tahap formulasi startegi ini, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
- Melakukan identifikasi ancaman dan peluang (eksternal) kemudian
internal yang berupa kekuatan, kelemahan yang akan mempengaruhi langsung
maupun tidak langsung terhadap organisasi.
- Menetapkan tujuan Manajemen krisis dalam jangka panjang
- Merumuskan strategi
- Menetapkan program-program strategis
Pada tahap implementasi strategi, langkah-langkah yang dilakukan adalah
- membuat kebijakan,
- mengalokasikan sumber daya sehingga strategi yang diformulasikan dapat dijalankan,
- menciptakan struktur yang efektif,
- menyiapkan anggaran,
- mengembangkan dan memberdayakan sistem informasi
Dan sebagai alat utama untuk menilai apakah strategi telah berjalan
atau belum sesuai yang diharapkan tahap berikutnya adalah melakukan
evaluasi strategi yang meliputi :
- Meninjau ulang faktor internal dan ekternal yang menjadi dasar srategi saat ini
- mengukur kinerja
- mengambil tindakan korektif
Dalam melakukan proses manajemen krisis melalui pendekatan manajemen
strategis, maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai
berikut:
Formulasi Strategi
Dalam tahap formulasi ini, langkah utama dan pertama yang harus
dilakukan adalah melakukan identifikasi isu-isu formulasi strategis
organisasi yang meliputi:
- Apa bidang utama garapan organisasi
- Bagaimana kondisi sekarang tentang sumber daya
- Apa yang harus dilakukan organisasi kedepan
Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini perlu dilakukan identifikasi
internal menyeluruh terhadap visi, misi, tujuan, identifikasi kekuatan
dan kelemahan (
internal analysis) termasuk mengidentifikasi bidang-bidang yang rawan menimbulkan krisis serta melakukan identifikasi peluang dan ancaman (
external
analysis) termasuk ancaman munculnya krisis yang kemungkinan terjadi di
masa mendatang. Setelah itu melakukan perumusan alternatif strategi dan
memilih strategi yang akan digunakan ketika krisis terjadi, sehingga
terwujud program-program apa yang harus segera dilakukan manakala krisis
menimpa organisasi.
Implementasi Strategi
Setelah proses formulasi strategi terumuskan maka tahap
berikutnya adalah merencanakan implementasi strategi yang akan digunakan
sebagai bahan panduan untuk menanggulangi apabila krisis terjadi,
meliputi:
- Membuat kebijakan apabila krisis terjadi
- Menetapkan program-program strategis penanggulangan krisis (emergency response program)
- Memberi pengarahan tehnis dan langkah-langkah yang akan dilakukan
apabila krisis terjadi kepada seluruh stakeholder internal maupun
eksternal
- Menyediakan alokasi anggaran khusus untuk crisis recovery
- Menciptakan struktur tim krisis
- Mengembangkan dan memberdayakan sumber dan media informasi
Hal diatas perlu dilakukan karena dalam manajemen krisis ada 4 proses penting yaitu:
- Perencanaan (planning),
- Penanggulangan cepat kejadian (Incident response),
- mengelola krisis (management crisis),
- keberlangsungan organisasi (business continuity).
Untuk itu, program-program implemetasi strategi manajemen krisis
sebagian berisi mengenai tindakan untuk menghadapi situasi darurat (
emergency response), skenario untuk pemulihan dari bencana
(disaster recovery), skenario untuk pemulihan bisnis
(business recovery), strategi untuk memulai bisnis kembali
(business resumption), menyusun rencana-rencana kemungkinan
(contingency planning), dan mengelola krisis (
crisis management). Khusus untuk penanganan krisis karena bencana, perlu dilengkapi
emergency response plan
(ERP) yang juga meliputi pembentukan sebuah tim yang terdiri dari para
anggota dengan tanggungjawab tertentu ketika terjadi situasi darurat
(emergency response team), alur tindakan pada situasi darurat
(emergency flowchart) dan prosedur evakuasi
. Emergency response plan ini harus didukung oleh
general emergency procedure (GEP).
Pada hakekatnya dalam setiap penanganan krisis, organisasi perlu
membentuk tim khusus. Tugas utama tim manajemen krisis ini terutama
adalah mendukung para karyawan organisai/perusahaan selama masa krisis
terjadi. Kemudian menentukan dampak dari krisis yang terjadi terhadap
operasi bisnis yang berjalan normal, dan menjalin hubungan yang baik
dengan media untuk mendapatkan informasi tentang krisis yang terjadi.
Sekaligus menginformasikan kepada pihak-pihak yang terkait terhadap
aksi-aksi yang diambil perusahaan sehubungan dengan krisis yang terjadi.
Hal ini bertujuan supaya organisasi mampu mempertahankan reputasi dan
citra di mata publik dan
stakeholder.